Ini dipaparkan di dalam diskusi dan workshop Pengembangan Ekowisata untuk Mendukung Konservasi Mangrove
yang digelar Kementerian Kehutanan dan Japan International Cooperation
Agency (JICA), Selasa (29/5) lalu di Banyuwangi, Jawa Timur.
Menurut peneliti Fakultas Kehutanan di Universitas Gadjah Mada, Siti Nurul Rofiqo, pada kesempatan itu, faktor yang mempengaruhi menurunnya jumlah luasan mangrove adalah pembukaan lahan (deforestasi) di daerah pesisir yang mengakibatkan sejumlah persoalan, seperti abrasi dan lain-lain.
Mangrove sebagai salah satu sumber daya alam yang tumbuh di kawasan pantai, merupakan ekosistem unik. Ekosistem hutan mangrove menjadi ekosistem penyambung atau interface antara daratan dan lautan.
Dampak hilangnya mangrove mulai dirasakan oleh masyarakat daerah pesisir. Rupanya hutan mangrove tak cuma memiliki fungsi ekologis, melainkan juga fungsi ekonomis. Muzayin, seorang warga Desa Wringin Putih Muncar, mengatakan setelah mangrove berkurang drastis di daerahnya tersebut, tangkapan ikan, kepiting, serta kerang pun berkurang.
(Gloria Samantha. Sumber: Kompas)
Menurut peneliti Fakultas Kehutanan di Universitas Gadjah Mada, Siti Nurul Rofiqo, pada kesempatan itu, faktor yang mempengaruhi menurunnya jumlah luasan mangrove adalah pembukaan lahan (deforestasi) di daerah pesisir yang mengakibatkan sejumlah persoalan, seperti abrasi dan lain-lain.
Mangrove sebagai salah satu sumber daya alam yang tumbuh di kawasan pantai, merupakan ekosistem unik. Ekosistem hutan mangrove menjadi ekosistem penyambung atau interface antara daratan dan lautan.
Dampak hilangnya mangrove mulai dirasakan oleh masyarakat daerah pesisir. Rupanya hutan mangrove tak cuma memiliki fungsi ekologis, melainkan juga fungsi ekonomis. Muzayin, seorang warga Desa Wringin Putih Muncar, mengatakan setelah mangrove berkurang drastis di daerahnya tersebut, tangkapan ikan, kepiting, serta kerang pun berkurang.
(Gloria Samantha. Sumber: Kompas)





